Banten

Kabar Terbaru MBG! Siswa Boleh Tambah Makan, Sistem Prasmanan Diuji di 10 Provinsi

Abdurahman | 20 Oktober 2026, 21:47 WIB
Kabar Terbaru MBG! Siswa Boleh Tambah Makan, Sistem Prasmanan Diuji di 10 Provinsi
UJI COBA-Uji Coba Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan metode prasmanan di Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (16/10/2026)(Foto:ANTARA)

AKURAT BANTEN— Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadirkan perkembangan baru yang menarik perhatian. Pemerintah mulai menguji sistem penyajian makanan secara prasmanan di 66 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 10 provinsi. Melalui skema ini, siswa berkesempatan menambah porsi makanan apabila masih merasa lapar.

Kabar tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas. Uji coba ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mengevaluasi pelaksanaan MBG, mulai dari cara penyajian makanan hingga kualitas hidangan yang diterima para siswa.

Sistem prasmanan diharapkan memberikan pengalaman makan yang lebih baik. Tak hanya itu, metode ini juga berpotensi membantu mengurangi makanan yang terbuang karena kebutuhan makan setiap siswa tidak selalu sama.

Namun, ada sejumlah hal yang masih menjadi perhatian, mulai dari keamanan pangan hingga kebutuhan biaya dan tenaga kerja. Artinya, uji coba ini bukan sekadar perubahan cara membagikan makanan, melainkan juga pengujian terhadap kesiapan pelaksanaan program MBG ke depan.

Baca Juga: Bukan MU atau Arsenal, 2 Klub Ini Kuasai Rekor Kemenangan Beruntun Premier League!

Zulhas Ungkap Uji Coba MBG Prasmanan di 66 SPPG

Dalam perkembangan terbaru yang dilaporkan pada Senin (19/10/2026), Zulhas mengungkapkan bahwa uji coba MBG dengan sistem prasmanan telah dilakukan di 66 SPPG pada 10 provinsi.

Perubahan ini menjadi sorotan karena sistem prasmanan memungkinkan siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan. Jika masih lapar setelah menghabiskan porsi awal, siswa dapat mengambil tambahan selama makanan masih tersedia dan pelaksanaannya mengikuti ketentuan yang berlaku.

Berbeda dengan pembagian makanan dalam porsi yang sudah ditentukan, metode prasmanan memberikan fleksibilitas lebih besar kepada penerima manfaat.

Pemerintah berharap pendekatan tersebut dapat meningkatkan kenyamanan siswa ketika makan sekaligus membantu pengelola memahami kebutuhan konsumsi di sekolah.

Siswa bukan hanya membutuhkan makanan bergizi, tetapi juga makanan yang layak, aman, dan cukup sesuai kebutuhan. Uji coba MBG prasmanan menjadi langkah untuk mengevaluasi bagaimana pelayanan makan di sekolah bisa ditingkatkan.

Meski demikian, hasil uji coba masih perlu dikaji sebelum pemerintah mengambil keputusan mengenai penerapan yang lebih luas.

Baca Juga: Luis Enrique Tegas: Lamine Yamal Tak Akan Pernah Menang jika Dibandingkan dengan Lionel Messi

Siswa Bisa Tambah Porsi, Sisa Makanan Jadi Perhatian

Salah satu hal yang menarik dari sistem MBG prasmanan adalah kesempatan bagi siswa untuk menambah makanan ketika masih lapar.

Kebutuhan makan setiap anak berbeda-beda. Ada siswa yang merasa cukup dengan porsi awal, sedangkan siswa lainnya mungkin membutuhkan tambahan makanan.

Dalam sistem prasmanan, perbedaan kebutuhan tersebut berpeluang diakomodasi dengan lebih fleksibel. Siswa bisa mengambil tambahan sesuai kebutuhan selama persediaan mencukupi.

Di sisi lain, sistem ini juga diharapkan membantu mengurangi sisa makanan. Apabila makanan yang disediakan dapat dikonsumsi sesuai kebutuhan penerima manfaat, potensi makanan terbuang bisa ditekan.

Namun, pengurangan sisa makanan tidak terjadi secara otomatis. Pengelola SPPG tetap perlu memperkirakan kebutuhan porsi secara tepat, menyesuaikan jumlah makanan dengan jumlah siswa, serta memastikan setiap hidangan memenuhi kebutuhan gizi.

Pengawasan guru dan petugas juga diperlukan agar proses pengambilan makanan berlangsung tertib dan tidak menyebabkan sebagian siswa kehilangan kesempatan memperoleh makanan yang cukup.

Baca Juga: Bikin Heboh! Greenpeace Bentangkan Spanduk di Patung Selamat Datang, Pesannya Menohok Prabowo-Gibran

Bukan Cuma Bisa Tambah Makan, Makanan Diharapkan Lebih Hangat

Selain memberikan fleksibilitas dalam mengambil porsi, sistem prasmanan juga berkaitan dengan upaya meningkatkan kualitas penyajian makanan.

Dalam distribusi makanan, waktu antara proses memasak, pengiriman, dan konsumsi menjadi faktor penting. Semakin panjang jeda tersebut, semakin besar kemungkinan suhu dan mutu makanan berubah.

Melalui metode penyajian yang lebih sesuai dengan waktu makan di sekolah, pemerintah berharap hidangan dapat dinikmati dalam kondisi lebih segar dan hangat.

Respons awal terhadap uji coba juga dilaporkan positif. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyampaikan bahwa siswa terlihat lebih antusias, sementara makanan dapat dinikmati dalam kondisi yang lebih baik.

Meski begitu, respons positif pada tahap awal belum cukup untuk memastikan bahwa sistem tersebut akan memberikan hasil yang sama di semua sekolah.

Kondisi setiap daerah berbeda. Ketersediaan fasilitas, jumlah siswa, kemampuan tenaga pengelola, serta jarak distribusi perlu menjadi pertimbangan dalam evaluasi.

Baca Juga: Manchester City dalam Bahaya! Pengurangan Poin Fantastis Bisa Seret Haaland dkk ke Championship

Keamanan Pangan Tetap Menjadi Syarat Utama

Di balik peluang perbaikan pelayanan, penerapan MBG prasmanan juga membutuhkan perhatian serius terhadap keamanan pangan.

Makanan yang disajikan secara terbuka harus tetap terlindungi dari kontaminasi. Peralatan makan perlu dijaga kebersihannya, sementara petugas harus memastikan makanan ditangani dan disimpan sesuai standar yang berlaku.

Pengaturan suhu juga penting, terutama untuk makanan yang mudah rusak jika terlalu lama berada pada kondisi yang tidak sesuai.

Karena itu, sistem prasmanan tidak boleh dipandang sebagai solusi otomatis untuk seluruh persoalan distribusi makanan. Metode penyajian baru tetap harus disertai pengawasan, prosedur kebersihan, dan pengendalian mutu yang konsisten.

Bagi orang tua, aspek ini tidak kalah penting dibandingkan kesempatan anak menambah porsi. Tujuan utama MBG tetap memastikan penerima manfaat mendapatkan makanan bergizi yang aman dikonsumsi.

Baca Juga: Bikin Merinding! Ayah Hilang Sejak 4 Bulan Lalu, Pengakuan Anak Kandung di Brebes Ungkap Dugaan Mutilasi

Biaya dan Tenaga Kerja Masih Dikaji

Penerapan sistem prasmanan secara lebih luas juga memerlukan perhitungan operasional yang matang.

Pengelola perlu menyiapkan fasilitas penyajian, peralatan makan, pengaturan alur siswa, serta tenaga yang memadai untuk menjaga kebersihan dan ketertiban.

Kebutuhan tersebut berpotensi berbeda antara sekolah kecil dan sekolah dengan jumlah siswa yang besar. Oleh sebab itu, biaya dan kebutuhan tenaga kerja menjadi bagian penting dalam evaluasi pemerintah.

Jika sistem prasmanan dinilai efektif, pemerintah tetap perlu memastikan bahwa penerapannya tidak mengurangi kualitas menu, kecukupan gizi, maupun standar keamanan pangan.

Pengelolaan porsi juga harus diperhatikan. Kesempatan menambah makanan perlu berjalan seiring dengan perencanaan persediaan agar seluruh siswa memperoleh bagian yang layak.

Dengan kata lain, keberhasilan sistem baru ini bukan hanya soal siswa bisa mengambil makanan tambahan, tetapi juga bagaimana pelayanan dapat berjalan tertib, aman, dan efisien.

Baca Juga: Prabowo Bikin Geger? Pengamat Soroti Pidato Spontan dan Komunikasi Menteri yang Tak Sinkron

Apakah MBG Prasmanan Akan Diterapkan di Seluruh Indonesia?

Uji coba di 66 SPPG yang tersebar di 10 provinsi menjadi tahap penting untuk menilai kelayakan metode penyajian baru tersebut.

Pemerintah masih perlu melihat hasil evaluasi secara menyeluruh sebelum menyimpulkan apakah sistem prasmanan cocok diterapkan secara lebih luas.

Beberapa indikator yang patut diperhatikan meliputi kualitas makanan, kecukupan porsi, respons siswa, jumlah sisa makanan, keamanan pangan, serta kebutuhan biaya operasional.

Jika hasilnya konsisten positif, sistem prasmanan dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperbaiki pelayanan MBG. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan setiap sekolah maupun SPPG.

Perluasan program juga tidak seharusnya hanya mengejar jumlah lokasi yang menerapkan sistem baru. Mutu pelayanan dan manfaat gizi bagi siswa harus tetap menjadi prioritas.

Bagi masyarakat, perkembangan ini menjadi kabar yang layak dicermati karena menyangkut kebutuhan sehari-hari anak-anak di sekolah.

Pada akhirnya, tantangan terbesar MBG bukan sekadar memastikan makanan tersedia, melainkan memastikan makanan tersebut benar-benar bergizi, aman, cukup, dan dinikmati oleh siswa yang menjadi penerima manfaat.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman